Omara Esteghlal Masuk Nominasi FFI 2025, Prilly Latuconsina Tetap Profesional sebagai Ketua Program

Patitimes.com- Aktor muda berbakat Omara Esteghlal kembali mencuri perhatian industri film Indonesia setelah dirinya dinominasikan dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2025. Omara masuk dalam kategori Pemeran Pria Pendukung Terbaik berkat aktingnya yang memukau dalam film Pengepungan di Bukit Duri.

Prestasi ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi bagi Omara, tetapi juga menjadi sorotan publik karena kekasihnya, Prilly Latuconsina, saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Program FFI.

Meski berada di posisi yang sangat dekat dengan proses penjurian, Prilly memastikan dirinya tetap menjaga profesionalitas. Ia menegaskan bahwa seluruh keputusan FFI dilakukan secara kolektif dan tidak dipengaruhi oleh hubungan personal dengan para nominasi.

Kebanggaan Prilly Latuconsina saat Omara Masuk Nominasi FFI

Ketika ditemui di Gedung Kemenbud, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (12/11), Prilly mengungkapkan rasa bangganya sekaligus keterkejutannya ketika mengetahui Omara masuk nominasi FFI 2025. Menurutnya, pencapaian itu benar-benar spesial, baik secara profesional maupun pribadi.

“Ya senang banget dan merasa spesial Omara masuk nominasi ya. Kayaknya yang spesial dari FFI tahun ini karena itu,” ungkap Prilly Latuconsina.

Aktris sekaligus produser berusia 29 tahun itu mengakui bahwa justru dirinya yang lebih heboh dibanding sang kekasih. Sebagai seseorang yang memahami betapa beratnya proses kerja para aktor, Prilly tahu bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja keras Omara selama berkecimpung di dunia seni peran.

“Aku yang lebih excited dan heboh mungkin ya, kayak kalau dia masuk nominasi,” ujarnya sambil tersenyum.

Profesional dan Objektif: Prilly Pastikan Tidak Bocorkan Hasil FFI

Sebagai Ketua Bidang Program FFI, Prilly memiliki akses pada sejumlah proses penting di dalam kepanitiaan. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya terikat pada etika, aturan, dan kerahasiaan yang harus dijaga. Hal ini membuatnya tidak bisa membocorkan hasil apapun kepada Omara atau pihak lain.

Menariknya, Prilly mengatakan bahwa tantangan terbesar bukanlah menjaga rahasia itu sendiri, melainkan menjaga ekspresi wajah agar tidak mudah ditebak oleh Omara.

“Sulitnya bukan karena apa-apa, karena dia bisa membaca ekspresi muka saya. Jadi saya harus akting juga kan, harus akting depan dia kayak, ‘Enggak tahu nih belum tahu, belum ada list-nya,’ gitu,” kata Prilly.

Dengan nada bercanda, ia menambahkan bahwa setiap kali pulang dari rapat FFI, ia harus berusaha tetap terlihat netral.

“Enggak ngulik sih, cuma misalnya abis meeting FFI kan, ‘Gimana tadi meetingnya?’ Aku jawab ‘Biasa aja’ gitu. Biar enggak ditanya-tanya,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Prilly tidak ingin posisinya menimbulkan konflik kepentingan. Ia memilih menjaga profesionalitas agar hasil FFI tetap objektif dan kredibel di mata publik maupun insan perfilman.

Peran Omara di “Pengepungan di Bukit Duri” Tuai Pujian

Film Pengepungan di Bukit Duri menjadi salah satu karya yang menuai banyak apresiasi pada tahun 2025, terutama karena kekuatan cerita dan kualitas akting para pemainnya. Omara Esteghlal berperan sebagai karakter pendukung yang memberi warna kuat pada alur film.

Performa Omara dianggap berhasil memperdalam tensi drama serta menghadirkan sisi emosional yang membuat penonton terhubung dengan konflik dalam cerita. Para kritikus pun menyebut kehadiran Omara sebagai elemen yang memperkaya narasi film.

Masuknya Omara ke dalam nominasi FFI 2025 disebut-sebut sebagai hasil dari konsistensinya dalam memilih peran yang menantang dan relevan dengan isu sosial.

FFI 2025 Digelar di TIM, Hadirkan Semangat Baru Industri Film Indonesia

Puncak penghargaan FFI 2025 akan digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada Kamis (20/11). Acara ini menjadi momen yang selalu dinanti seluruh pelaku industri film tanah air, karena FFI dianggap sebagai ajang paling prestisius untuk mengapresiasi karya dan talenta terbaik.

Tahun ini, FFI mengusung semangat pembaruan dengan penjurian yang lebih transparan, kurasi yang lebih ketat, dan program pengembangan film yang semakin inklusif. Kehadiran generasi muda dalam struktur kepanitiaan—termasuk Prilly—diharapkan membawa perspektif segar untuk masa depan perfilman Indonesia.

Hubungan Omara dan Prilly: Profesional di Ruang Publik, Mendukung di Ruang Privat

Meski banyak publik menyoroti hubungan keduanya, Omara dan Prilly menunjukkan kedewasaan dalam memisahkan urusan pribadi dan profesional. Prilly tetap memegang prinsip objektivitas, sementara Omara tidak memanfaatkan kedekatan mereka untuk mencari keuntungan dalam proses penjurian.

Keduanya justru saling mendukung karier masing-masing sambil tetap menghormati etika profesi yang berlaku. Sikap inilah yang membuat hubungan mereka diapresiasi oleh banyak penggemar dan rekan-rekan di industri.

Kesimpulan

Masuknya Omara Esteghlal dalam nominasi FFI 2025 merupakan pencapaian besar yang menegaskan kualitas aktingnya di film Pengepungan di Bukit Duri. Sementara itu, Prilly Latuconsina—sebagai Ketua Bidang Program FFImenunjukkan profesionalitas tinggi dengan menjaga kerahasiaan hasil penjurian.