Patitimes.com- Kasus pembunuhan Dwintha Anggary (37), cucu dari seniman legendaris Mpok Nori, mengungkap fakta baru terkait perjalanan hubungan korban dengan pelaku, seorang warga negara asing (WNA) asal Irak bernama Fuad. Keduanya diketahui pernah menjalin hubungan hingga menikah secara siri sebelum konflik berujung maut.
Peristiwa tragis ini terjadi di sebuah rumah kontrakan di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, tempat korban ditemukan tewas pada Sabtu (21/3/2026). Kasus ini langsung menyita perhatian publik, tidak hanya karena latar belakang korban sebagai keluarga seniman terkenal, tetapi juga karena melibatkan hubungan lintas negara yang berakhir tragis.
Kakak korban, Dian, mengungkapkan bahwa awal perkenalan antara Dwintha dan Fuad terjadi pada tahun 2017. Saat itu, Dwintha tengah bekerja di Malaysia sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Di negeri jiran tersebut, keduanya bertemu dan mulai menjalin hubungan.
“Pada 2017, adik saya berangkat ke Malaysia untuk bekerja sebagai TKI. Di sana dia kenal dengan Fuad,” ujar Dian saat ditemui di Jakarta Timur, Senin (23/3/2026).
Hubungan keduanya berlanjut selama Dwintha bekerja di Malaysia. Menurut Dian, adiknya menghabiskan waktu sekitar empat tahun bekerja di luar negeri sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia.
“Kurang lebih empat tahun dia bekerja di Malaysia, kemudian pulang ke Indonesia,” jelasnya.
Setelah Dwintha kembali ke Tanah Air, hubungan mereka tidak terputus. Fuad justru menyusul ke Indonesia dan menunjukkan keseriusannya dengan melamar Dwintha. Keluarga korban pada saat itu tidak menolak hubungan tersebut.
“Tidak lama setelah adik saya pulang, Fuad datang ke Indonesia dan melamar. Karena mereka saling menyukai, keluarga mengikuti saja,” kata Dian.
Hubungan tersebut kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan, meski hanya dilakukan secara siri. Namun, seiring berjalannya waktu, keharmonisan hubungan mereka mulai terganggu oleh berbagai persoalan.
Dian mengungkapkan bahwa konflik mulai muncul ketika Dwintha bekerja di sebuah usaha katering di Jakarta. Pekerjaan tersebut membuat lingkup pergaulan korban menjadi lebih luas, termasuk dengan rekan kerja laki-laki.
Menurut Dian, hal ini memicu rasa cemburu dari Fuad yang kemudian berujung pada pertengkaran yang semakin sering terjadi.
“Adik saya bekerja di katering, kadang pulang sampai malam. Temannya banyak, laki-laki dan perempuan. Dari situ muncul kecemburuan, dia mengira adik saya sudah tidak setia,” ungkap Dian.
Pertengkaran yang awalnya hanya kesalahpahaman, lama-kelamaan berubah menjadi konflik yang berulang. Keluarga pun mulai melihat adanya ketegangan dalam hubungan keduanya.
Selain persoalan kecemburuan, kendala komunikasi juga menjadi faktor yang memperburuk hubungan. Dian menyebut, keluarga mengalami kesulitan berkomunikasi dengan Fuad karena perbedaan bahasa.
“Kami jarang berkomunikasi dengan dia karena kendala bahasa. Kadang saat berbicara, nadanya tinggi, jadi sulit membedakan apakah dia sedang marah atau memang cara bicaranya seperti itu,” jelas Dian.
Hambatan komunikasi tersebut membuat keluarga tidak dapat memahami secara utuh dinamika hubungan antara Dwintha dan Fuad. Hal ini juga menyulitkan upaya untuk meredakan konflik yang terjadi di antara keduanya.
Kasus ini menjadi sorotan karena menggambarkan kompleksitas hubungan lintas budaya yang tidak diiringi dengan komunikasi yang baik. Perbedaan latar belakang, bahasa, dan cara berinteraksi dapat menjadi pemicu konflik jika tidak dikelola dengan bijak.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami motif di balik pembunuhan tersebut. Namun, rangkaian konflik yang diungkap keluarga diduga menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi tindakan pelaku.
Kepergian Dwintha meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama karena korban dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras dan dekat dengan keluarganya. Sebagai cucu dari Mpok Nori, Dwintha juga dikenal memiliki hubungan yang erat dengan dunia seni dan budaya Betawi.
Keluarga berharap kasus ini dapat diusut tuntas dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Mereka juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam menjalin hubungan, terutama yang melibatkan perbedaan latar belakang budaya dan bahasa.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa hubungan interpersonal membutuhkan komunikasi yang sehat, kepercayaan, serta pemahaman yang mendalam satu sama lain. Tanpa hal tersebut, konflik kecil dapat berkembang menjadi masalah besar dengan konsekuensi yang tidak terduga.
Kasus pembunuhan ini tidak hanya menjadi tragedi bagi keluarga korban, tetapi juga pelajaran bagi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga hubungan yang sehat dan aman.
markom Patitimes.com

















