Ukraina Membara: Serangan Rusia Tewaskan 27 Orang Jelang Usulan Gencatan Senjata Tanpa Batas

Patitimes.com– Eskalasi konflik di Eropa Timur kembali mencapai titik didih. Sedikitnya 27 orang dilaporkan tewas akibat gelombang serangan masif yang dilancarkan militer Rusia di sejumlah wilayah Ukraina pada Selasa (5/5/2026).

Ironisnya, serangan mematikan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum batas waktu usulan gencatan senjata tanpa batas yang diajukan oleh Kyiv, yang dijadwalkan mulai berlaku pada tengah malam.

Aksi militer yang agresif ini seolah menjadi jawaban dingin Moskow terhadap diplomasi perdamaian yang coba ditawarkan Ukraina. Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyebut situasi ini sebagai bentuk “teror yang meningkat” di saat dunia internasional menanti tanda-tanda de-eskalasi.

Zaporizhzhia Menjadi Titik Paling Mematikan

Salah satu serangan paling brutal terjadi di kota strategis Zaporizhzhia. Wilayah ini menjadi sasaran kombinasi bom udara berpemandu dan drone bunuh diri. Berdasarkan laporan Gubernur Ivan Fedorov, sedikitnya 12 orang tewas dan 20 lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Modus serangan di Zaporizhzhia digambarkan sangat “sinis” oleh pejabat setempat. Sekretaris Dewan Kota Zaporizhzhia, Rehina Kharchenko, mengungkapkan bahwa setelah menjatuhkan empat bom udara, Rusia sengaja mengirimkan drone Shahed buatan Iran untuk menyerang lokasi yang sama saat petugas penyelamat sedang bekerja.

Baca Juga :  Rusia Butuh Banyak Tenaga Kerja Terampil, Indonesia Jadi Incaran Pengusaha

“Untuk waktu yang sangat lama, petugas Layanan Darurat Negara dan layanan kota tidak dapat mendekati lokasi karena serangan susulan yang terus-menerus,” ujar Kharchenko. Rekaman di lokasi menunjukkan pemandangan mengerikan: api melalap kendaraan sipil, bangunan tempat usaha hancur, dan asap hitam pebal membubung tinggi ke langit Ukraina.

Diplomasi Gencatan Senjata: Kyiv vs Moskow

Situasi kemanusiaan ini terjadi di tengah perdebatan mengenai gencatan senjata menyambut peringatan Hari Kemenangan (Victory Day). Berikut adalah perbedaan posisi kedua negara:

  • Rencana Rusia: Moskow sebelumnya mengumumkan rencana gencatan senjata singkat pada 8-9 Mei, hanya untuk menghormati peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

  • Usulan Ukraina: Presiden Volodymyr Zelenskiy menolak penghentian serangan satu hari yang dianggap hanya sebagai simbol parade militer Rusia. Sebagai gantinya, Ukraina mengajukan gencatan senjata tanpa batas waktu yang seharusnya dimulai pada Rabu pukul 21.00 GMT (tengah malam waktu setempat).

Zelenskiy menegaskan bahwa keamanan warga sipil tidak bisa dinegosiasikan melalui jeda singkat yang hanya menguntungkan propaganda militer lawan. “Penghentian serangan hanya untuk parade bukanlah solusi bagi nyawa manusia yang hilang setiap hari,” tegas Zelenskiy.

Baca Juga :  Rusia dan Indonesia Sepakati Kerja Sama Investasi Senilai 2 Miliar Euro, Komitmen Perkuat Hubungan Bilateral

Rincian Sebaran Serangan di Berbagai Wilayah

Selain Zaporizhzhia, serangan udara Rusia menyasar titik-titik krusial lainnya di Ukraina dengan dampak yang tidak kalah destruktif:

  1. Kramatorsk: Tiga bom udara menghantam area pemukiman, mengakibatkan 6 orang tewas dan 12 orang luka-luka.

  2. Dnipro: Serangan menyasar fasilitas publik dan menewaskan sedikitnya 4 orang. Pejabat setempat mencatat 16 orang lainnya terluka, dengan 4 di antaranya dalam kondisi kritis.

  3. Poltava: Gelombang serangan di wilayah ini merenggut 5 nyawa warga sipil.

  4. Sumy: Meski tidak ada laporan korban jiwa hingga berita ini diturunkan, sedikitnya 6 orang terluka akibat hantaman proyektil.

Presiden Zelenskiy dalam keterangan resminya mengutuk keras rangkaian kejadian ini. “Ini adalah serangan teroris yang benar-benar sinis dan tidak masuk akal, tanpa makna militer sama sekali. Serangan terhadap kota dan desa kita tidak berhenti satu hari pun,” tulisnya melalui saluran komunikasi resmi.

Balasan Ukraina dan Pertahanan Udara Rusia

Di tengah gempuran Rusia, militer Ukraina dilaporkan melakukan upaya balasan menggunakan pesawat tak berawak (drone) ke wilayah kedaulatan Rusia dan daerah pendudukan.

Baca Juga :  Rusia dan Indonesia Sepakati Kerja Sama Investasi Senilai 2 Miliar Euro, Komitmen Perkuat Hubungan Bilateral

Kantor berita Rusia, TASS, melaporkan bahwa serangan drone Ukraina di wilayah Chuvashia menewaskan dua orang. Sementara itu, di semenanjung Krimea, sistem pertahanan udara Rusia dilaporkan bekerja ekstra keras. Kementerian Pertahanan Rusia mengeklaim telah mencegat sedikitnya 93 drone Ukraina dalam periode tujuh jam untuk melindungi aset militer mereka di wilayah tersebut.

Mengapa Rusia Meningkatkan Serangan?

Pengamat geopolitik menilai peningkatan serangan tepat sebelum usulan gencatan senjata menunjukkan strategi “tekanan maksimum” dari Moskow. Dengan menghantam infrastruktur sipil dan menyebabkan korban jiwa besar, Rusia diduga ingin menunjukkan bahwa mereka tetap memegang kendali penuh di medan tempur dan tidak terikat oleh tekanan diplomatik Kyiv.

Kini, dengan angka kematian yang terus bertambah dan usulan gencatan senjata yang diabaikan, masa depan dialog damai di Ukraina tampak semakin suram. Dunia internasional kini tertuju pada reaksi sekutu Barat Ukraina terkait apakah serangan ini akan memicu pengiriman bantuan persenjataan yang lebih canggih guna mematahkan dominasi udara Rusia.