Heboh Tarif Parkir Mahal di Kawasan Kampus ISI Hingga Rp10 Ribu, Jukir Kena Sanksi

Patitimes.com – Heboh tarif parkir mahal di kawasan kampus Institut Senin Indonesia (ISI), Surakarta. Menurut unggahan di media sosial, seorang warga mengeluhkan biaya parkir Rp10 ribu, padahal tarif yang tercantum dalam karcis adalah Rp3 ribu.

Menanggapi aduan tersebut, Pemkot Solo melalui Dinas Perhubungan (Dishub) memanggil juru parkir (jukir) yang bertugas, yakni A, serta pengelola parkir kawasan itu. Berdasarkan klarifikasi, jukir tersebut sengaja menaikkan tarif parkir karena adanya event dan durasi parkir lama.

“Tadi pengelola sama jukir sudah dipanggil ke Dishub. Dia mengakui semuanya. Alasannya karena ada kegiatan event dan parkirnya lama,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, Taufiq Muhammad, Kamis (16/4/2026), dikutip Detik.

Baca Juga :  Puluhan Pelajar SMP di Solo Terindikasi Gunakan Psikotropika dan Sinte

Namun, jukir tersebut malah memodifikasi tarif parkir tersebut secara sepihak. Atas perbuatannya, jukir bersangkutan diberikan sanksi berupa pembekuan izin tugas dan menyita Kartu Tanda Anggota (KTA). Sedangkan, pengelola parkir mendapatkan peringatan.

“Ada laporan ditarik Rp 10.000, itu pun orek-orek (tulisan tangan) untuk sepeda motor. Padahal kalau insidental (non-rutin) resminya itu mobil Rp 5.000 dan sepeda motor Rp 3.000. Kita tidak ada tarif progresif untuk parkir insidental, semuanya flat,” tegasnya.

“KTA-nya kita ambil dulu untuk pembinaan. Pengelolanya juga kita berikan peringatan. Kalau sampai terulang lagi, ya izinnya bisa kita evaluasi,” tambah Taufiq.

Sementara, event yang dimaksud bertepatan dengan momen wisuda di area kampus ISI pada Rabu (15/4/2026). Pihak kampus menegaskan bahwa tarif parkir tersebut di luar kewenangannya.

Baca Juga :  Puluhan Pelajar SMP di Solo Terindikasi Gunakan Psikotropika dan Sinte

“ISI Solo tidak bekerja sama dengan pihak mana pun terkait dengan pengelolaan keamanan parkir di lingkungan kampus. Segala bentuk pungutan parkir di luar area kewenangan ISI Solo bukan menjadi tanggung jawab pihak kampus,” ujar Humas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Anhar Widodo. (*)