Buaya Raksasa 585 Kilogram Mati di Penangkaran Sementara DPKP Inhil, Isi Perutnya Mengejutkan

Patitimes.com– Seekor buaya berukuran raksasa yang sebelumnya ditangkap warga di Desa Sungai Undan, Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir, dilaporkan mati di penangkaran sementara milik Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil.

Reptil dengan berat mencapai 585 kilogram dan panjang 5,7 meter itu ditemukan tak bernyawa pada Kamis (20/11) setelah dilakukan observasi oleh petugas.

Kepala DPKP Inhil, Junaidi, menjelaskan bahwa kematian buaya yang dijuluki Si Udan tersebut baru diketahui ketika personel melakukan pengecekan rutin. Observasi dilakukan karena sebelumnya buaya mengalami infeksi pada bagian kaki dan tangan akibat luka lecet.

“Kematian buaya dilaporkan setelah personel melakukan observasi. Karena tak ada tanda-tanda bergerak, lalu dilakukan pengecekan, ternyata sudah mati,” kata Junaidi di Tembilahan, dikutip dari Antara, Senin (24/11).

Buaya itu telah berada di penangkaran selama 20 hari, namun selama masa karantina hewan tersebut tidak pernah ingin makan meski sudah beberapa kali diberi pakan.

Ditangkap Warga dan Dievakuasi 9 Jam Melalui Jalur Darat

Buaya raksasa ini pertama kali ditangkap warga Desa Sungai Undan pada 1 November. Penangkapan dilakukan setelah reptil tersebut beberapa kali muncul di sekitar pemukiman dan dikhawatirkan membahayakan warga.

Keesokan harinya, buaya dievakuasi menggunakan mobil kabin ganda menuju Tembilahan. Proses evakuasi berlangsung selama sembilan jam perjalanan darat. Sesampainya di DPKP Inhil, buaya kemudian ditempatkan di penangkaran sementara di kawasan Jalan SKB, Tembilahan.

Junaidi mengatakan tim telah melakukan pemantauan intensif sejak hari pertama. Namun kondisi luka dan penolakan makan menjadi faktor yang membuat kondisi buaya semakin memburuk.

Kematian Dilaporkan ke Lembaga Konservasi Nasional

DPKP Inhil memastikan bahwa pihaknya telah melaporkan kematian Si Udan ke sejumlah lembaga terkait. Laporan disampaikan kepada:

  • Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau
  • Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI
  • Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSDPL) Padang
  • Loka Kawasan Perairan Nasional Pekanbaru Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI

Lembaga-lembaga tersebut akan melakukan tindak lanjut terkait penanganan bangkai buaya serta proses konservasi lebih lanjut.

Isi Perut Buaya Bikin Terkejut: Plastik Hingga Barang Elektronik

Sebelum bangkai buaya dibawa ke Jakarta untuk diserahkan kepada lembaga konservasi di bawah Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, petugas melakukan pembedahan guna mengeluarkan isi perut hewan tersebut.

Hasil temuan dari pembedahan itu membuat petugas terkejut. Tidak ditemukan sisa tulang hewan maupun manusia. Sebaliknya, perut buaya justru penuh dengan plastik dan berbagai benda yang sama sekali tidak dapat dicerna.

“Kemungkinan benda-benda yang tidak bisa dicerna itu penyebab buaya tersebut mati. Bayangkan saja, plastik ada 20 kantong, serta karung goni, pisau, mata tombak, dan tabung televisi,” ujar Junaidi.

Temuan ini menguatkan dugaan bahwa buaya kemungkinan besar telah menelan benda-benda tersebut ketika masih berada di sungai. Junaidi menilai bahwa sampah yang dibuang sembarangan ke sungai bisa menjadi ancaman serius bagi satwa liar, terutama predator besar seperti buaya muara.

Dugaan Penyebab Kematian: Infeksi dan Sampah di Perut

Meski buaya raksasa tersebut mengalami luka lecet di beberapa bagian tubuh, Junaidi menduga bahwa penyumbatan saluran pencernaan akibat banyaknya sampah non-organik dapat menjadi penyebab utama kematian.

Buaya yang menolak makanan selama 20 hari menunjukkan bahwa sistem pencernaannya mungkin sudah terganggu sejak sebelum ditangkap warga.

Petugas juga menduga bahwa keberadaan barang-barang tajam seperti pisau dan mata tombak di dalam perut buaya dapat memperparah kondisi organ pencernaannya dan menyebabkan infeksi internal yang fatal.

Peringatan untuk Warga dan Pentingnya Menjaga Ekosistem Sungai

Kematian Si Udan menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan sungai. Sampah yang dibuang sembarangan tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga dapat mengancam kehidupan satwa liar, termasuk hewan besar seperti buaya muara.

Selain itu, peristiwa ini menunjukkan perlunya mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar, terutama di wilayah yang berdekatan dengan habitat alami buaya.

DPKP Inhil mengimbau warga untuk tetap waspada serta segera melaporkan jika melihat buaya berukuran besar di sekitar permukiman.

“Kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sungai. Sampah bukan hanya mencemari, tetapi juga bisa mengancam nyawa satwa,” kata Junaidi.