PP Muhammadiyah: Kritik Pandji Harus Disikapi Dewasa, Bukan dengan Kriminalisasi

Patitimes.com- Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memberikan respons tegas namun menyejukkan terkait polemik kritik komika Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan stand-up comedy spesial bertajuk Mens Rea.

Kritik tersebut menyinggung isu konsesi tambang untuk organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan yang belakangan memicu perdebatan publik hingga berujung pelaporan hukum.

Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, menekankan pentingnya sikap dewasa dan berlapang dada dalam menyikapi kritik, termasuk kritik yang disampaikan melalui medium komedi. Ia menilai kritik merupakan elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus sarana evaluasi bagi individu maupun institusi.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (9/1/2026), Anwar Abbas meminta warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk tidak bersikap antikritik. Menurutnya, sikap defensif berlebihan justru dapat menggerus nilai demokrasi dan kebebasan berekspresi.

“Kita harus berlapang dada jika dikritik. Karena lewat kritik, kita bisa bercermin apakah kita sudah berbuat baik dan benar atau belum,” ujar Anwar Abbas.

Kritik sebagai Bagian dari Tugas Suci

Anwar Abbas yang juga dikenal sebagai pengamat sosial ekonomi dan keagamaan menegaskan bahwa bagi Muhammadiyah, semangat memperbaiki diri merupakan bagian dari tugas suci. Ia menilai kritik dari siapa pun dan melalui media apa pun perlu dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas kebaikan dan kebermanfaatan organisasi.

Menurutnya, ukuran keberhasilan sebuah organisasi Islam bukan terletak pada bebasnya dari kritik, melainkan sejauh mana keberadaannya benar-benar membawa maslahat bagi umat dan bangsa.

“Sebaik-baik orang dan organisasi dalam Islam adalah yang kehadirannya dirasakan manfaatnya. Jika di masa lalu kita belum maksimal berbuat baik, mari kita evaluasi. Upaya menjadi lebih baik ini harus dilihat sebagai tugas suci,” jelasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan sikap Muhammadiyah yang berbeda dari pendekatan reaktif sebagian pihak yang memilih jalur pidana dalam merespons kritik Pandji Pragiwaksono. Anwar Abbas menyiratkan bahwa ketersinggungan seharusnya dijawab dengan introspeksi, bukan kriminalisasi.

Catatan Etis bagi Para Pengkritik

Meski membela pentingnya kebebasan berpendapat, Anwar Abbas juga memberikan catatan kritis kepada para pengkritik. Ia mengingatkan agar kritik disampaikan secara proporsional dan bertanggung jawab.

Mengutip teori psikologi yang ia sebut sebagai “teori jungkat-jungkit”, Anwar menjelaskan bahwa keseimbangan antara rasio dan perasaan sangat penting dalam menyampaikan kritik.

“Jika emosi terlalu dominan, peran rasio akan menurun. Sebaliknya, jika rasio terlalu dominan, perasaan bisa terabaikan. Pengkritik jangan terlalu emosional agar tetap konsisten dengan misi menegakkan kebenaran,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa baik pihak yang mengkritik maupun yang dikritik harus mampu mengelola akal sehat dan emosi dengan berlandaskan nilai-nilai agama serta Pancasila.

“Jangan biarkan perasaan dan pikiran berjalan sebebas-bebasnya, tetapi sinari dengan nilai agama agar diridhai Allah dan diterima masyarakat,” pungkasnya.

Duduk Perkara Pelaporan Pandji Pragiwaksono

Polemik ini bermula ketika Rizki Abdul Rahman Wahid, yang mengklaim sebagai Presidium Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU), melaporkan Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya pada Rabu (7/1/2026). Laporan tersebut didasarkan pada materi pertunjukan Mens Rea.

Dalam materi stand-up comedy itu, Pandji menyinggung isu politik balas budi terkait pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada ormas keagamaan. Ia menyebut konsesi tambang tersebut sebagai “imbalan” atas dukungan politik, sebuah pernyataan yang dinilai pelapor sebagai fitnah dan berpotensi menimbulkan keresahan.

“Ini menimbulkan keresahan, khususnya bagi kami sebagai anak muda Nahdliyin, juga rekan-rekan dari Aliansi Muda Muhammadiyah,” kata Rizki.

Namun, baik PBNU maupun Muhammadiyah telah menegaskan bahwa pelapor tidak merepresentasikan sikap resmi organisasi. PBNU bahkan menyayangkan langkah kriminalisasi terhadap komedian dan menilai ruang kritik seharusnya dijaga dalam negara demokrasi.

Komedi, Kritik, dan Demokrasi

Sebagai informasi, Mens Rea merupakan pertunjukan komedi Pandji Pragiwaksono yang ditayangkan di salah satu platform streaming digital. Dalam pertunjukan tersebut, Pandji banyak membahas isu politik nasional, demokrasi, serta relasi kekuasaan, yang menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.

Sikap PP Muhammadiyah yang menekankan kedewasaan dan etika dalam menyikapi kritik dinilai banyak pihak sebagai penyeimbang di tengah menguatnya polarisasi. Pernyataan Anwar Abbas mempertegas bahwa kritik termasuk dari panggung komedi merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat, selama disikapi dengan akal sehat, etika, dan niat untuk memperbaiki keadaan.