Semarang, Patitimes.com – Pemerintah Kota Semarang meluncurkan buku antologi cerita pendek (cerpen), “Kampungku dan Kota Semarang”. Peluncuran buku ini sebagai bagian peringatan Hari Literasi Nasional, sekaligus apresiasi pemerintah atas karya anak bangsa.
Peluncuran buku antologi cerpen ini juga telah melewati proses cukup panjang dalam program Aktivitas Warga Pintar (AWP) Bercerita. Program ini dimulai dari lomba dan workshop penulisan cerpen yang diikuti sekitar 2.000 peserta, terdiri dari pelajar SD, SMP, SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Dari ribuan karya yang masuk, terpilih 90 cerpen terbaik yang dibukukan menjadi tiga antologi terpisah, yakni kategori SD, SMP, dan SMA/Umum. Pemkot Semarang juga memberikan penghargaan senilai Rp194 juta bagi para pemenang dari tiga kategori tersebut.
Pada dasarnya, budaya literasi tidak hanya sekadar kegemaran membaca dan menulis, namun juga kontribusi terhadap lingkungan sekitar. Pihaknya mendorong anak mulai membangun minat baca dan tulis, untuk ke depannya mampu memberikan pengaruh positif kepada orang lain.
“Pesan Ibu Wali jelas, literasi tidak boleh berhenti di membaca dan menulis saja. Literasi harus mampu membentuk masyarakat yang literate, yaitu masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pemahaman untuk bertindak dengan benar,” ujar Kepala Dinas Arpus Kota Semarang, Bambang Suranggono, mewakili Wali Kota Agustina, Rabu (12/11/2025).
Kegiatan ini turut menarik perhatian dari berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia dan sejumlah lembaga pendidikan. Harapannya, dukungan dari lembaga-lembaga tersebut memungkinkan kegiatan literasi di Semarang tetap berkelanjutan tanpa bergantung penuh pada APBD.
Semarang memang sudah terkenal dengan sejumlah destinasi wisata dan sejarah panjangnya, seperti Lawang Sewu dan Kota Lama. Maka dari itu, DPRD Kota Semarang mendorong agar kisah di kampung-kampung Semarang turut diangkat untuk membawa sejarah baru yang masih tersembunyi dalam kilasan waktu.
“Cerita tentang Lawang Sewu atau Kota Lama sudah sering kita dengar, tapi masih banyak kisah dari kampung-kampung di Semarang yang layak diangkat. Dengan menulis, anak-anak bisa menjadi bagian dari sejarah baru kota ini,” kata Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim. (adv)
Redaksi Patitimes.com

















