Pati, Patitimes.com – Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar demonstrasi di depan Kantor Bank Mandiri Pati selama beberapa hari. Aksi unjuk rasa itu akan berlangsung selama empat hari, sejak Selasa hingga Jumat (15-18/9/2026).
Koordinator AMPB, Supriyono alias Botok, mengatakan pihaknya hanya membawa satu tuntutan yakni, klarifikasi mengenai pemblokiran rekening berisi dana donasi sebelum demo di depan DPR RI pada akhir Agustus 2026 lalu.
“Melakukan aksi penyampaian pendapat di muka umum terkait pemblokiran rekening sepihak yang dilakukan oleh Bank Mandiri,” jelas Supriyono, beberapa waktu lalu.
Hari pertama, digelar pada Selasa (15/9/2026), Massa membakar ban bekas hingga melempari kantor Bank Mandiri dengan telur. Aksi tersebut sebagai wujud hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap Bank Mandiri.
Botok mengatakan, pemblokiran secara sewenang-wenang rekening sebelum aksi unjuk rasa mengindikasikan upaya pembungkaman terhadap suara rakyat. Terlebih, rekening tersebut berisi kumpulan dana dari masyarakat.
“Ini bukan sekedar pemblokiran ini adalah bentuk pembungkam kepada suara rakyat. Ini adalah bentuk perlawanan perjuangan kami untuk bangsa ini,” ucap dia.
“Terkait kejadian kemarin itu menghilang kepercayaan kepada Perbankan. Rekening itu privasi, tanpa klarifikasi kepada saya tanpa klarifikasi kepada nasabah bank bisa sewenang-wenang melakukan pemblokiran,” lanjut dia.
Ia turut mempertanyakan urgensi pemblokiran rekeningnya, sementara praktik judi online masih menjamur dan rekening koruptor tidak diblokir. Tindakan tersebut dianggap telah mengecewakan dirinya sebagai nasabah Bank Mandiri.
“Dengan blokiran rekening saya sebesar Rp80 juta sekian, negara ini judi online sangat merusak kehidupan di masyarakat kenapa tidak di blokir. Rekening koruptor triliun kenapa tidak diblokir,” lanjutnya.
“Hari ini kita tidak mau diskusi. Karena apa yang dilakukan Bank Mandiri sangat melukai teman-teman dan rakyat Indonesia,” tandasnya.
Sementara, pada aksi hari kedua pada Rabu (16/9/2026), massa memasang spanduk seruan boikot dan kembali melempar telur ke depan gedung. Hal itu dilakukan untuk menyuarakan kekecewaan korban kecurangan oknum perbankan sekaligus tata kelola bank yang buruk.
“Pelemparan telur itu simbol kekecewaan kami karena diduga banyak laporan kecurangan, termasuk laporan dari warga Jaken yang agunannya dipakai kembali secara fiktif oleh oknum pegawai Plat Merah padahal pinjaman 2016-2017 sudah lunas,” tegas salah satu aktivis AMPB, Novie Adrianta. (*)
















