Kadus di Purbalingga Tewas di Tangan Tatangga, Sering Cekcok karena Lahan Garapan

Patitimes.com – Seorang kepala dusun di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, tewas di tangan tetangganya sendiri. Pelaku inisial SWE (50) tega menghantam korban S (57) dengan kayu dan sabit dipicu karena sakit hati.

Peristiwa nahas itu terjadi di kebun milik Khairul Ansor di Desa Sangkanayu pada Kamis (11/6/2026) pukul 09.30 WIB. Pelaku dan korban diketahui bersama-sama menggarap lahan yang disewa dari pemilik kebun, namun sering cekcok.

“Modusnya karena pelaku merasa sakit hati terhadap korban. Selama ini sering terjadi cekcok dan pelaku mengaku sering dimarahi korban saat berada di kebun,” kata Kapolres Purbalingga AKBP Anita Indah Setyaningrum, Jumat (12/6/2026), dikutip Detik.

Baca Juga :  Persoalan Pangan Komoditas Beras: Rantai Distribusi Kurang Efisien dan Sulitnya Regenerasi Petani

Saat kejadian, S sedang berada di kebun seperti biasa, lalu bertemu dengan SWE yang datang untuk mencari kayu, rumput dan singkong. Korban sempat menegur dan melarang tetangganya tersebut, sehingga memicu emosi pelaku.

“Korban sempat melarang pelaku mencari kayu dan juga singkong. Karena pelaku merasa selama ini sering dimarahi dan rasa sakit hati sudah terakumulasi, kemudian pelaku mengambil sebatang kayu dan menghantam pelipis kiri korban sebanyak dua kali,” jelasnya.

Setelah menghajar korban secara membabi buta, pelaku juga membacok korban menggunakan sabit. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Konflik keduanya berawal dari pembagian lahan garapan dalam satu lokasi. Korban menggarap sekitar dua pertiga lahan, sedangkan pelaku menggarap sepertiga bagian lainnya. Hal itu membuat keduanya sering cekcok karena pelaku sering masuk ke area garapan korban.

Baca Juga :  Perempuan Ditemukan Tewas di Tepi Sungai Silandak Ngaliyan, Diduga Hanyut Terbawa Banjir

“Antara pelaku dan korban itu sama-sama menyewa tanah dan menggarap di satu tempat. Korban menggarap kurang lebih dua pertiga, kemudian pelaku sepertiga. Karena satu lokasi, mereka sering bertemu dan sebelumnya memang sudah sering cekcok,” ujar Kasat Reskrim Polres Purbalingga AKP Siswanto.

“Karena setiap waktu di sawah atau kebun itu sering ketemu. Pelaku sering mengambil tanaman singkong ataupun kayu. Korban tidak terima dan meminta supaya jangan diambil karena dianggap masuk bagian yang dikerjakannya,” katanya. (*)