Sistem Pengelolaan Sampah di Desa Meteseh Rembang Jadi Contoh Daerah Lain

 

Rembang, Patitimes.com – Desa Meteseh, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah menggunakan Inseminator Sampah Sederhana (Insana). Metode ini dipercaya bisa mengurangi pencemaran lingkungan dan membawa manfaat ekonomi.

Inseminator Sampah Sederhana (Insana) berbentuk menyerupai bangunan perapian dengan dua lubang. Lubang atas digunakan untuk memasukkan sampah, sedangkan lubang bawah berfungsi untuk mengambil sisa pembakaran.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Meteseh, Suko Siswanto mengatakan, meski masih menggunakan sistem pembakaran, asap yang dihasilkan cenderung minim. Sehingga, masih aman jika dibanding pembakaran sampah secara terbuka.

151 Kepala Keluarga (KK) sudah memanfaatkan alat ini dengan sistem iuran. Setiap KK mendapatkan keranjang sampah yang diambil petugas setiap tiga hari sekali. Setiap KK dibebani biaya operasional Rp20 ribu per bulan, sedangkan warga yang membutuhkan tambahan keranjang dikenai biaya tambahan Rp10 ribu.

Baca Juga :  2 Insiden Kebakaran Rumah Terjadi di Rembang dalam Waktu Sehari

“Sementara ini sudah ada 151 KK yang terdata memanfaatkan alat Insana ini. Tapi dalam satu keluarga biasanya ada yang meminta dua keranjang sampah. Jadi kalau ada satu KK yang minta dua keranjang hanya tambah Rp10 ribu,” ujarnya.

Inovasi pengelolaan sampah tersebut bermula dari pembuatan pribadi pada 2022 saat bencana banjir besar. Namun, setelah alat tersebut dinilai cukup efektif, akhirnya diadopsi oleh pemerintah desa.

Dua tahun setelahnya, pemerintah desa mengembangkan alat ciptaannya dengan kapasitas lebih besar, dan memasukkannya dalam perencanaan pembangunan melalui Dana Desa 2025, dengan anggaran sekitar Rp15 juta.

Sebelum dibakar dengan alat, sampah terlebih dahulu dipilah. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi akan dimanfaatkan untuk menunjang operasional, sementara yang tak bernilai langsung dihancurkan.

Baca Juga :  Ikan Nila Salin Bakal Jadi Menu Andalan Program MBG di Rembang

“Yang masih bernilai ekonomi kita pilah dan bisa kita gunakan untuk beli minuman buat petugas yang ambil sampah. Sedangkan sampah yang tidak memiliki nilai rupiah akan langsung dibakar, baik sampah kering maupun sampah basah,” jelas Suko.

Saat ini, inovasi pengelolaan sampah Insana menjadi percontohan sejumlah wilayah di Rembang maupun luar daerah. Beberapa waktu lalu, perwakilan Desa Gandrirejo, Kecamatan Sedan datang untuk melihat langsung cara kerja Insana dan berencana menganggarkan pembuatannya. (*)