Patitimes.com– Selama bertahun-tahun, parfum identik dengan satu benda: botol. Wewangian disimpan di dalam botol, kemudian disemprotkan ke tubuh sebagai sentuhan terakhir sebelum beraktivitas. Namun, cara orang menikmati fragrance kini mulai berubah.
Wewangian tidak lagi hanya hadir sebagai sesuatu yang digunakan di kulit. Aroma mulai merambah benda-benda yang dekat dengan keseharian, seperti scrunchie, bag charm, gelang, hingga berbagai aksesori lainnya. Perubahan ini membuat fragrance memiliki peran baru, bukan sekadar memberikan aroma harum, tetapi juga menjadi bagian dari gaya personal.
Salah satu brand yang tengah mengeksplorasi perkembangan tersebut adalah Tamburins. Brand asal Korea Selatan ini memperbarui flagship store-nya di Shanghai pada 16 Juli 2026 dengan mengangkat Hair Collection. Koleksi tersebut memperkenalkan aroma baru bernama Summer Tails dalam sejumlah format, mulai dari hair perfume, hair oil, hingga 20 desain scrunchie.
Menariknya, scrunchie tersebut tidak hanya berfungsi sebagai aksesori rambut. Materialnya juga membawa aroma yang terdiri dari lily of the valley, geranium, cedarwood, dan patchouli. Ketika rambut bergerak, aroma perlahan dilepaskan sehingga wewangian menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, hair perfume dan hair oil dari koleksi tersebut tersedia dalam tiga aroma lain yang sebelumnya sudah menjadi bagian dari lini Tamburins.
Ketika Fragrance Bertemu Fashion
Perkembangan fragrance menjadi aksesori sebenarnya masuk akal jika melihat perubahan cara konsumen memandang benda-benda fashion dan beauty. Aksesori saat ini bukan sekadar pelengkap penampilan. Bag charm, gelang, scrunchie, hingga gantungan kecil pada tas dapat menjadi medium untuk menunjukkan karakter dan selera seseorang.
Fragrance kemudian masuk ke ruang tersebut.
Jika parfum konvensional digunakan dengan cara disemprotkan, fragrance accessories menawarkan pengalaman yang lebih subtil dan personal. Aroma dapat muncul ketika rambut bergerak, ketika seseorang menyentuh gelang, atau ketika sebuah charm bergoyang di tas.
Dari sisi bisnis, format ini juga menawarkan peluang baru bagi brand. Sebotol parfum dapat digunakan selama berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun. Sebaliknya, aksesori memiliki karakter yang lebih mudah dikoleksi, diganti, dan dipadupadankan.
Satu aroma juga dapat diterjemahkan ke berbagai bentuk, material, ukuran, dan tingkat harga. Konsumen yang mungkin belum ingin membeli satu botol parfum berukuran penuh dapat mengenal sebuah brand melalui produk yang lebih kecil sekaligus fungsional.
Tamburins bukan satu-satunya brand yang melihat peluang tersebut. Pada November 2025, brand asal China, Documents, merilis bag charm yang menggabungkan parfum berukuran 5 ml dengan pengait logam, tali kulit, dan manik-manik kayu.
Empat aroma khas Documents dipadukan dengan simpul tradisional China yang masing-masing memiliki makna tertentu, seperti umur panjang, pemenuhan harapan, dan kebersamaan. Produk tersebut akhirnya berada di persimpangan antara fragrance, fashion, dan simbol budaya.
Eksperimen serupa juga dilakukan Pop Mart. Brand yang dikenal melalui karakter koleksinya tersebut memasukkan aroma buah ke dalam plush charm Baby Molly. Dalam produk ini, karakter menjadi daya tarik utama, sedangkan aroma memberikan pengalaman tambahan bagi pengguna.
Bukan Tren yang Sepenuhnya Baru
Meski terlihat seperti tren baru, konsep fragrance dalam bentuk aksesori sebenarnya telah muncul beberapa tahun sebelumnya.
Pada 2019, Diptyque memperkenalkan Prêts-à-Parfumer, sebuah koleksi yang mengeksplorasi cara berbeda untuk membawa aroma. Koleksinya mencakup gelang anyaman beraroma, bros berbentuk burung dengan cakram keramik yang dapat diganti, hingga stiker beraroma yang bisa ditempelkan pada kulit.
Yang berubah adalah konteks zamannya.
Saat itu, tren bag charm, aksesori berlapis, dan berbagai beauty objects belum sekuat sekarang. Kini, aksesori semakin erat dengan cara seseorang membangun personal style, terutama ketika penampilan sehari-hari juga menjadi bagian dari konten di media sosial.
Ada pula akar budaya yang lebih panjang. Dalam sejarah China, membawa aroma melalui benda-benda tertentu bukanlah hal baru. Masyarakat telah menggunakan sachet, incense plaque, gelang agarwood, hingga ornamen sandalwood untuk membawa wewangian melalui pakaian, panas tubuh, dan sentuhan.
Tradisi tersebut kini bertemu dengan tren aksesori modern.
Di Beijing, misalnya, gelang manik-manik beraroma osmanthus dari Baita Temple Pharmacy seharga 169 RMB dilaporkan menjadi salah satu produk yang diminati. Sekitar 50 buah dalam satu batch disebut dapat habis dalam waktu dua hingga tiga hari.
Pertemuan antara tradisi dan tren modern inilah yang membuat fragrance accessories menarik. Produk tersebut bukan hanya menawarkan aroma, tetapi juga bentuk, fungsi, cerita, dan identitas.
Pada akhirnya, evolusi parfum mungkin bukan tentang menggantikan botol. Botol tetap menjadi ikon fragrance. Namun, kini aroma memiliki lebih banyak cara untuk hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Dari rambut hingga tas, dari gelang hingga boneka koleksi, fragrance perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak hanya dipakai, tetapi juga dikenakan, dibawa, dikoleksi, dan dipamerkan. Aroma pun menemukan tempat baru dalam dunia personal style.

















