Patitimes.com, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara – Dampak bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara masih dirasakan oleh warga di daerah terdampak, terutama di Tapanuli Tengah (Tapteng).
Salah satu warga, Damai Mendrofa dari Kecamatan Pandan, menyampaikan harapannya agar pemerintah mengubah mekanisme penyaluran bantuan logistik bagi korban bencana.
Damai menekankan bahwa bantuan yang menumpuk di posko tidak efektif, karena banyak korban yang tidak memiliki kendaraan atau tenaga untuk mengantri.
Menurutnya, pola distribusi yang ada saat ini membuat warga harus melakukan perjalanan jauh hanya demi mendapatkan bantuan pokok, seperti beras, air, dan bahan makanan lainnya.
“Saya bertemu dengan seorang bapak yang jalan kaki dari daerah yang sampai hari ini masih terbilang terisolir. Yang sampai ke sana itu cuma sepeda motor besar,” ujar Damai kepada inilah.com, Kamis (4/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa warga tersebut berjalan puluhan kilometer hanya karena kabar akan ada pembagian beras di Bulog. Kondisi ini menurut Damai menunjukkan bahwa sistem distribusi saat ini tidak menjangkau seluruh korban, khususnya mereka yang kehilangan harta benda atau kendaraan akibat bencana.
“Masyarakat terdampak itu berharap bantuan datang ke mereka. Karena tidak semua orang punya sumber daya. Misalnya, saya punya becak, saya punya motor untuk menjemput air, membeli makanan. Tapi tidak semua orang punya, kan?” tegas Damai.
Door-to-Door: Solusi Efektif untuk Penyaluran Bantuan
Damai mendesak pemerintah untuk lebih proaktif mendatangi warga terdampak secara langsung, melalui sistem door-to-door, sehingga bantuan bisa diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan tanpa harus menempuh jarak jauh. Ia menilai, korban bencana saat ini sudah kelelahan, baik secara fisik maupun psikis, setelah berjuang membersihkan sisa banjir.
“Pemerintah datang ke masyarakat untuk menyalurkan dukungan sebisa yang mereka punya. Jangan lagi diharapkan masyarakat yang ngantre, masyarakat yang datang, masyarakat yang berbondong-bondong untuk ke posko-posko. Jadi posko-posko itu harapan kami membagi tugasnya,” kata Damai.
Menurut Damai, posko bantuan seharusnya berfungsi sebagai pusat koordinasi dan distribusi, sementara pengiriman logistik ke rumah-rumah warga harus menjadi prioritas utama. Dengan begitu, bantuan dapat lebih tepat sasaran dan korban yang benar-benar membutuhkan tidak harus mengalami kesulitan tambahan.
Kondisi Korban Bencana di Tapanuli Tengah
Banjir dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu telah menimbulkan dampak signifikan di Tapanuli Tengah, termasuk kerusakan infrastruktur, rumah warga, dan akses jalan yang terputus. Banyak wilayah terisolir yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua besar atau berjalan kaki.
Warga yang terdampak sering kali kesulitan mengakses bantuan karena lokasi mereka yang jauh dari posko. Kondisi ini memperburuk keadaan, terutama bagi lansia, anak-anak, dan mereka yang kehilangan sumber daya untuk bergerak atau membawa bantuan.
Damai juga menyampaikan bahwa distribusi bantuan yang tidak merata berpotensi menimbulkan ketidakadilan sosial, di mana sebagian warga bisa mendapatkan bantuan lebih cepat sementara yang lain tetap menunggu dalam kondisi sulit. Hal ini semakin mempertegas kebutuhan akan sistem distribusi yang lebih efisien dan manusiawi.
Harapan Warga dan Peran Pemerintah
Warga terdampak berharap pemerintah dapat menyesuaikan mekanisme penyaluran bantuan agar lebih responsif terhadap kebutuhan lapangan. Door-to-door dianggap sebagai pendekatan yang lebih efektif, karena dapat menjangkau warga di lokasi terpencil sekaligus meringankan beban mereka yang kelelahan dan kekurangan fasilitas transportasi.
Selain itu, sistem distribusi yang lebih proaktif dapat membantu pemerintah memetakan wilayah terdampak secara akurat, sehingga bantuan logistik, medis, dan kebutuhan dasar lainnya bisa lebih tepat sasaran.
Damai menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat sangat penting agar bantuan dapat tersalurkan secara cepat dan merata. Ia berharap perubahan mekanisme ini tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi menjadi model distribusi yang lebih baik untuk menghadapi bencana di masa depan.
“Kami berharap bantuan tidak hanya menumpuk di posko, tapi sampai ke rumah warga yang benar-benar membutuhkan. Dengan begitu, semua korban bisa merasakan dampak nyata dari bantuan tersebut,” pungkas Damai.
Kisah Damai Mendrofa menjadi cermin kondisi nyata korban bencana di Sumatera Utara. Bencana banjir dan longsor tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan tantangan besar dalam distribusi bantuan. Door-to-door menjadi solusi yang lebih manusiawi dan efektif, sekaligus mempercepat proses pemulihan bagi warga terdampak.
Dengan memperhatikan kondisi lapangan dan mengedepankan pendekatan proaktif, pemerintah diharapkan mampu menghadirkan bantuan yang tepat sasaran, cepat, dan merata, sehingga korban bencana tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga merasa diperhatikan secara langsung.
markom Patitimes.com





















