Sebulan Pascabanjir Bandang Aceh Tamiang, Warga Masih Tinggal di Rumah Tertimbun Lumpur

Patitimes.com- Kondisi masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pascabencana banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 masih memprihatinkan.

Hingga satu bulan setelah bencana, pemulihan di sejumlah wilayah terdampak belum menunjukkan perubahan signifikan, terutama pada sektor permukiman warga.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Maulana Al Mahdy yang baru-baru ini berkunjung langsung ke Aceh Tamiang dan daerah sekitarnya, yang tercatat sebagai salah satu lokasi terdampak banjir bandang terparah. Berdasarkan video dan laporan yang diterima, kondisi di lapangan masih jauh dari kata pulih.

“Kalau kita lihat dari bangunan-bangunan yang ada, kemudian rumah-rumah warga yang terkena musibah, memang masih belum banyak perubahan. Rumah yang terbenam lumpur kondisinya masih seperti saat awal kejadian,” ujar Ustaz Maulana Al Mahdy saat dihubungi di Jakarta, Selasa (30/12/2025).

Rumah Warga Masih Tertimbun Lumpur

Menurut Maulana, banyak rumah warga yang hingga kini masih tertimbun lumpur dengan ketinggian cukup parah. Bahkan, sebagian masyarakat terpaksa tetap tinggal di rumah mereka yang sudah rusak akibat tidak memiliki tempat alternatif.

“Rumah yang dipakai sementara oleh masyarakat itu sebenarnya rumah mereka sendiri yang sudah tertimbun tanah. Kalau tinggi rumahnya sekitar tiga meter, atapnya dibongkar sehingga tersisa sekitar satu setengah sampai dua meter saja,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari warga menjadi sangat terbatas. Selain tidak layak huni, rumah-rumah itu juga rawan dari segi keselamatan dan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Upaya Pembersihan Masih Terus Berjalan

Meski demikian, upaya pemulihan terus dilakukan oleh berbagai pihak. Pemerintah daerah setempat bersama TNI dan Polri, serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), masih berfokus pada pembersihan jalan dan fasilitas umum dari lumpur yang menumpuk akibat banjir bandang.

Selain aparat dan relawan lokal, jemaah dakwah tabligh juga turut membantu proses pemulihan, terutama dalam kegiatan sosial dan pendampingan masyarakat terdampak.

“Alhamdulillah, untuk pembersihan jalan masih terus dilakukan. Beberapa relawan juga aktif membantu, termasuk dari jemaah tabligh yang turun langsung ke lokasi,” kata Maulana.

Hunian Sementara Mulai Dibangun

Pemerintah daerah Aceh Tamiang juga telah memulai pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak banjir bandang. Hunian tersebut diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.

“Sudah ada pembangunan hunian sementara yang dibangun oleh pemda setempat. Insyaallah itu akan diberikan kepada masyarakat yang tertimpa musibah,” jelas Ustaz Maulana.

Namun, jumlah hunian sementara masih terbatas dan belum sepenuhnya menjangkau seluruh korban banjir bandang. Banyak warga masih bertahan di rumah rusak sambil menunggu kepastian relokasi atau bantuan lanjutan.

Bantuan Logistik Mulai Terpenuhi, Tapi Belum Merata

Terkait bantuan logistik, Maulana menyebutkan kondisi relatif membaik dibandingkan awal bencana. Kebutuhan pokok seperti makanan dan air bersih sudah mulai terpenuhi berkat adanya posko bantuan yang terkoordinasi.

“Sekarang sudah ada posko khusus untuk menampung dan menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Meski demikian, distribusi bantuan dinilai belum merata, terutama bagi warga yang tinggal di daerah pedalaman. Masih banyak masyarakat yang kekurangan perlengkapan dasar seperti kompor, tikar, alat masak, serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Infrastruktur dan Listrik Masih Jadi Kendala

Selain permukiman dan logistik, kondisi infrastruktur juga menjadi tantangan besar dalam pemulihan pascabencana Aceh Tamiang. Banyak kayu besar dan material sisa banjir masih berserakan dan belum sepenuhnya diangkat.

Di sisi lain, Maulana menyampaikan kabar positif terkait pemulihan listrik. PLN telah membawa beberapa tiang listrik ke wilayah terdampak untuk segera dipasang.

“Alhamdulillah, PLN sudah membawa tiang-tiang listrik untuk dipasang kembali. Tapi memang belum semua wilayah teraliri listrik,” katanya.

Untuk wilayah yang masih gelap gulita, warga terpaksa bergantung pada genset. Namun, penggunaan genset pun terbatas karena keterbatasan bahan bakar.

“Genset biasanya dinyalakan dari setelah Maghrib sampai sekitar setengah sebelas malam. Setelah itu dimatikan. Jadi warga masih sangat terbatas dalam penerangan malam hari,” jelas Maulana.

Harapan Pemulihan Jangka Panjang

Satu bulan pascabencana, kondisi Aceh Tamiang menunjukkan bahwa proses pemulihan masih membutuhkan waktu, perhatian, dan dukungan berkelanjutan. Warga berharap adanya percepatan pembangunan hunian layak, pemulihan infrastruktur, serta pemerataan bantuan hingga ke pelosok.

Banjir bandang Aceh Tamiang menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana, pengelolaan lingkungan, serta sinergi antara pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat untuk mempercepat pemulihan dan meminimalisir dampak bencana di masa depan.