Patitimes.com- Sebuah video yang tengah ramai beredar di berbagai platform media sosial kembali menjadi perbincangan publik. Video tersebut memuat klaim bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyerahkan 90.000 hektare lahan pribadi untuk konservasi gajah pada tahun 2024.
Narasi ini mencuat di tengah isu yang menuding bahwa banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera, khususnya Aceh, disebabkan oleh keberadaan lahan sawit milik Prabowo di kawasan hutan.
Video tersebut diunggah oleh akun Instagram @birosuarakyat pada Selasa (9/12/2025) dan langsung menarik perhatian warganet. Dalam video itu, narator menyebut bahwa tuduhan kepada Prabowo merupakan bentuk fitnah yang tidak berdasar.
Sebaliknya, narator menegaskan bahwa Prabowo justru sudah lebih dulu berkontribusi untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Difitnah jadi biang kerok banjir. Prabowo justru sudah serahkan 90.000 hektare lahan pribadi untuk konservasi gajah tahun 2024,” kata narator dalam video tersebut.
Klaim Penyerahan 90.000 Hektare Lahan ke WWF
Dalam penjelasan lebih lanjut, narator mengungkapkan bahwa Prabowo telah menyerahkan lahan yang berlokasi di Takengon, Aceh, kepada WWF (World Wide Fund for Nature). Menariknya, WWF disebut hanya meminta sekitar 10.000 hektare untuk program konservasi gajah.
Namun Prabowo diklaim memberikan lahan sembilan kali lipat lebih besar demi menyelamatkan satwa dan menjaga keberlanjutan alam.
“Ini adalah keputusan yang diambil di saat banyak orang lebih memilih untuk mengeruk kekayaan. Prabowo justru melepaskan tanahnya untuk menyelamatkan satwa dan alam,” lanjut narator.
WWF sendiri dikenal sebagai organisasi konservasi lingkungan terbesar di dunia, yang fokus pada perlindungan ekosistem, keanekaragaman hayati, hingga pelestarian satwa langka termasuk gajah Sumatera. Karena itu, klaim bahwa Prabowo memberikan 90.000 hektare kepada WWF menimbulkan diskusi luas di tengah publik yang masih mencari kejelasan atas isu deforestasi dan kerusakan hutan di Aceh.
Narasi Kontra Tuduhan Penyebab Banjir Aceh
Video viral ini muncul bersamaan dengan maraknya perdebatan mengenai penyebab banjir bandang yang melanda Aceh dan beberapa wilayah lain di Sumatera. Sejumlah unggahan di media sosial menuding bahwa banjir terjadi akibat aktivitas perkebunan kelapa sawit yang diklaim terkait dengan Presiden Prabowo.
Narator dalam video tersebut membantah dugaan tersebut dengan menekankan bahwa seseorang yang sudah menyerahkan lahan begitu luas untuk kelestarian lingkungan tidak mungkin terlibat dalam aktivitas yang merusak alam.
“Bagaimana mungkin orang yang mengorbankan 90.000 hektare demi hutan dan gajah, dituduh menjadi penyebab banjir karena menguasai lahan? Sejarah telah mencatat bahwa Prabowo telah berjuang jauh sebelum semua ini terjadi,” ujar narator.
Klaim ini kemudian memicu perdebatan lebih besar, terutama di kalangan pengguna media sosial yang mempertanyakan apakah informasi yang beredar benar-benar dapat diverifikasi.
Respons Publik Beragam di Media Sosial
Seperti isu-isu lain yang berkaitan dengan tokoh nasional, komentar warganet pun terbagi menjadi dua kubu: mereka yang mendukung klaim tersebut dan mereka yang meragukannya.
Akun warganet @trianaxxx menunjukkan dukungannya dan menilai bahwa setiap ada masalah nasional, Prabowo selalu menjadi sasaran serangan bertubi-tubi.
“Di setiap ada masalah di Indonesia pasti diserangnya habis-habisan. Bener-bener nyerang bukan kritik ya tapi lebih ke ngatain, fitnah dll. Itu selalu loh, sampai kesannya enggak ada lagi yang bagus sama sekali,” tulisnya.
Namun tidak semua warganet percaya begitu saja dengan klaim tersebut. Akun goexxx memberikan komentar singkat namun tegas:
“Ga percaya.”
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa isu mengenai lahan, deforestasi, dan penanganan lingkungan masih menjadi topik sensitif yang memerlukan klarifikasi lebih kuat dari pihak-pihak terkait.
Isu Lingkungan dan Banjir Sumatera Masih Jadi Sorotan
Hingga kini, penyebab utama banjir bandang di Aceh dan Sumatera masih terus diselidiki oleh berbagai pihak, termasuk ahli lingkungan dan lembaga pemerintah. Tuduhan-tuduhan yang muncul di ruang digital sering kali memperkeruh situasi, terutama ketika tidak disertai bukti yang akurat.
Meski video tersebut menawarkan narasi tandingan, publik tetap menantikan klarifikasi resmi mengenai benar atau tidaknya penyerahan 90.000 hektare lahan yang digemborkan dalam video viral tersebut.
Yang pasti, diskursus mengenai konservasi lingkungan, pelestarian gajah Sumatera, serta pengelolaan hutan di Indonesia masih akan terus menjadi fokus perhatian, terlebih setelah bencana besar melanda beberapa wilayah.
markom Patitimes.com





















